Wednesday, 8 October 2014

Laporan Praktikum bioteknologi



BAB 1
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Selama kehidupan di bumi masih berlangsung, maka selama itu pula manusia akan tetap ‘dipaksa’ memenuhi segala kebutuhan yang semakin lama kian meningkat baik kualitas maupun kuantitasnya. Meningkatnya kualitas hidup serta nilai-nilai budaya manusia itu sendiri akan menuntut peningkatan dari kualitas kebutuhannya, sedangkan pertambahan jumlah populasi manusia akan meningkatkan kuantitas kebutuhan tersebut.
Produksi pangan tumbuh berdasarkan deret ukur, sedangkan populasi manusia tumbuh berdasarkan deret hitung. Ini berarti keberadaan bahan pangan akan tumbuh lebih lambat dibandingkan keberadaan populasi manusia. Hal ini merupakan kenyataan yang harus mendapat perhatian lebih bagi seluruh masyarakat di bumi. Manusia harus mencari bagaimana cara mengatasi masalah tersebut.
Seiring dengan perkembangan kemampuan manusia dalam ilmu pengetahuan dan teknologi, penerapan teknologi dalam bidang pangan juga semakin maju. Sejak ribuan tahun yang lalu, manusia telah dapat membuat produk makanan baru dengan memanfaatkan mikroorganisme. Bioteknologi yang digunakan dalam masa ini masih sangat sederhana (tradisional) dan dalam skala kecil.
Dari waktu ke waktu, pembuatan makanan baru dengan bantuan mikroorganisme ini terus dikembangkan menjadi lebih modern, dalam skala yang lebih besar, dan kualitas yang lebih baik. Dengan begitu, duharapkan agar produksi pangan dapat mengimbangi populasi manusia yang terus bertambah.

1.2 Rumusan Masalah
Dari latar belakang di atas dirumuskan masalah sebagai berikut :
1.    Apa yang dimaksud dengan bioteknologi pangan ?
2.    Apa saja kegiatan-kegiatan yang dilakukan dalam bioteknologi pangan ?
3.    Apa saja contoh-contoh hasil dari bioteknologi pangan ?
4.    Apa saja manfaat bioteknologi dalam bidang pangan ?
5.    Apa dampak negatif yang ditimbulkan dari proses bioteknologi panagn ini ?
6.    Bagaiman solusi untuk mengurangi dampak negatif dari proses bioteknologi pangan ?


1.3 Tujuan
Tujuan dari penulisan makalah ini antara lain :
1.    Mengerti pengertian bioteknologi pangan.
2.    Mengetahui kegiatan-kegiatan yang dilakukan dalam bioteknologi pangan.
3.    Mengetahui contoh-contoh hasil dari bioteknologi pangan.
4.    Memahami manfaat bioteknologi pangan.
5.    Memahami dampak negatif yang ditimbulkan dari bioteknologi pangan.
6.    Memahami cara untuk mengurangi dampak negatif dari bioteknologi pangan.

1.4 Manfaat
1.    Menambah pengetahuan pembaca tentang bioteknologi pangan.
2.    Memberi pemahaman konsep dan dampak bioteknologi pangan kepada pembaca sebagai konsumen.
3.    Sebagai bahan referensi bagi pembaca.


BAB 2
PEMBAHASAN
2.1 Pengertian Bioteknologi Pangan
Istilah bioteknologi pertama kali dikemukakan oleh Karl Erekty, seorang insinyur Hongaria, pada tahun 1917 untuk mendeskripsikan produksi babi dalam skala besar dengan menggunakan bit gula sebagai sumber makanan. Pada perkembangannya sampai pada tahun 1970 bioteknologi selalu berasosiasi dengan rekayasa biokimia {biochemical engineering).
Bioteknologi berasal dari kata “Bio” dan “Teknologi”. Bio berasal dari bahasa yunani “Bios” yang berarti hidup. Sedangkan teknologi berasal dari bahasa perancis “La Teknique” yang dapat diartikan sebagai semua proses yang dilaksanakan dalam upaya untuk mewujudkan sesuatu secara rasional.
Secara garis besar bioteknologi dapat didefinisikan sebagai penggunaan organisme atau sistem hidup untuk memecahkan suatu masalah atau untuk menghasilkan produk yang berguna. Sehingga bioteknologi pangan dapat diartikan sebagai solusi bioteknologi dibidang pangan sejak persiapan bahan sampai dengan pengolahannya menjadi produk siap olah atau siap hidang.

2.2 Kegiatan-kegiatan dalam Bioteknologi Pangan
Secara garis besar kegiatan bioteknologi pangan dapat dijelaskan sebagai berikut :
1)      Teknologi Sel Mikroba, untuk produksi pangan terfermentasi dan aditif pangan
Teknologi sel mikroba sudah diaplikasikan di bidang pangan sejak beberapa abad yang lalu. Tujuan dari bioteknologi sel mikroba ini adalah pengawetan pangan yang menghasilkan berbagai jenis makanan fermentasi. Sedangkan teknologi mikrobial yang bertujuan menghasilkan bahan kimia sekaligus bahan pangan adalah produksi etanol oleh khamir  dari proses lanjutannya untuk menghasilkan cuka (asam asetat) oleh bakteri.
2)      Aplikasi Enzim untuk persiapan bahan maupun pengolahan pangan
Teknologi aplikasi enzim untuk persiapan maupun pengolahan pangan sangat luas. Aplikasi yang tergolong kelompok pertama misalnya pembuatan sirup glukosa dari pati-patian yang melibatkan enzim-enzim α dan β amylase, amiloglukosidase dan pallulanase, konfersi glukosa ke fruktosa oleh glukosaisomerase, penggunaan pektinase untuk membantu ekstraksi pati dari bahan asalnya, modifikasi pati untuk mengubah sifat fungsionalnya dan sebagainya.
Pada kelompok kedua selain contoh kelasik pembuatan keju adalah misalnya penggunaan lipase untuk menghasilkan emulsifier, surfaktant, mentega, coklat tiruan, protease untuk membantu pengempukan daging, mencegah kekeruhan bir, naringinase untuk menghilangkan rasa pahit pada jus jeruk, glukosa oksidase untuk mencegah reaksi pencoklatan pada produk tepung telur dan lain-lain.
3)      Kultur Sel atau Jaringan tanaman dan Tanaman Transgenik
Sel tanaman mempunyai kemampuan yang disebut “totipotency”, yaitu kemampuan tumbuh dan berkembang biak untuk menjadi tanaman lengkap pada medium yang memenuhi syarat. Dapat pula sel tersebut tumbuh tanpa mengalami diferensiasi. Hal ini tergantung pada kadar hormon pertumbuhan yang diberikan. Dengan kenyataan ini maka kemungkinan pemberdayaan sel atau jaringan tanaman untuk maksud-maksud berikut :
a.       Produksi zat kimia atau aditif pangan.
b.      Menumbuhkan tanaman (dengan produk bahan pangan) berkualitas tinggi.
c.       Menumbuhkan tanaman dengan produktifitas bahan pangan tinggi.

Sifat variasi somaklonal dari sejumlah populasi sel tanaman yang tumbuh dapat dugunakan untuk menseleksi sel tanaman yang unggul untuk memproduksi metabolit tertentu. Produk-produk aditif yang dapat diharapkan dari sel tanaman antara lain :
a.       Zat warna pangan (antosianin, betasini. Saffron)
b.      Zat rasa/flavor (strawberry, anggur. Dll)
c.       Minyak atsiri (mint, ros, dll)
d.      Pemanis (steviosida, monelin)
4)      Kultur Sel Hewan dan Hewan Transgenik
Kultur sel hewan adalah sistem menumbuhkan sel manusia maupun hewan untuk tujuan memproduksi metabolit tertentu. Pada saat sekarang aplikasi dari system ini banyak digunakan untuk menghasilkan produk-produk farmasi dan kit diagnostik dengan kebanyak jenis produk berupa molekul protein kompleks. Adapun contoh-contoh produk yang biasa dihasilkan oleh sel hewan misalnya : interferon, tissue plasminogen activator, erythroprotein, hepatitis B surface antigen.
Hewan transgenik aalah hewan yang menerima gen pindahan dari organisme lain (atau hewan yang sama) untuk tujuan-tujuan yang tentunya dianggap menguntungkan bagi manusia. Sda jenis hewan transgenik yang dianggap sebagai system produksi yang lebih baik bagi beberapa protein yang biasanya diproduksi oleh sistem sel hewan, salah satu contohnya adalah produksi t-PA oleh tikus yang depresi pada susu. Dunia perikanan pun tak ketinggalan dengan mengklon gen beku pada ikan salmon agar tahan dingin sehingga menunda masa bertelur dan sebagai gantinya meningkatkan bobot badannya.
5)      Rekayasa Protein
Aplikasi rekayas protein dalam bidang pangan melibatkan 2 hal :
a.       Enzim melalui modifikasi molekul protein. Dalam hal ini tujuan sasarannya adalah stabilitas enzim pada kondisi-kondisi khusus.
b.      Modifikasi protein pangan untuk mengubah sifat fungsionalnya. Sasaran tujuan misalnya memperbaiki sifat elastisitas, kemampuan membentuk emulsi atau kemampuan menstabilkan tekstur.
2.3 Hasil dari Bioteknologi Pangan
Secara garis besar, produk bioteknologi dalam bidang pangan dapat dikelompokkan menjadi empat jenis, yaitu :
1)      Produk makanan bergizi tinggi
a.       Tempe
Selama proses fermentasi, jamur Rhizopus menghasilkan enzim protease yang mampu mendegradasi protein menjadi asam amino serta menghasilkan enzim lipase yang menguraikan lemak menjadi asam lemak.
b.      Roti
Enzim amilase yang diaktifkan oleh air memecah amilum dalam tepung terigu pada roti menjadi gula.
c.       Oncom
Neurospora pada oncom dapat mengeluarkan enzim amilase, lipase dan protease yang aktif selama proses fermentasi.
d.      Nata de coco
Biosintesis nata de coco menggunakan sumber gula yang berasal dari medium air kelapa. Yaitu glukosa dan fruktosa.
2)      Produk makanan dan minuman hasil fermentasi alkohol
a.       Tape
Pada saat fermentasi tape, terjadi sakarifikasi pati oleh enzim amilase yang dihasilkan oleh jamur, kemudian dilanjutkan dengan fermentasi alkohol oleh khamir.
b.      Bir
Yeast yang digunakan adalah Saccharomyces cerevicae dan S. Carlsbergensis. Fermentasi bir umumnya memakan waktu 5-14 hari.
c.       Minuman anggur (Wine)
Minuman anggur umunya mengandung alkohol dengan kadar 10-15%

3)      Produk makanan dan minuman hasil fermentasi asam
a.       Yoghurt
Mikroorganisme yang digunakan adalah bakteri Lactobacillus bulgaricus dan Streptococcus thermophillus.
b.      Keju
Bakteri yang digunakan adalah yang berasal dari genus Lactobacillus dan Streptococcus.
c.       Sauerkrat dan pikel (acar)
Bakteri asam laktat yang digunakan adalah Lactobacillus casei, Lactobacillus brevis, Lactobacillus cremoris.

4)      Produk bahan penyedap
a.       Tauco
Tauco merupakan produk fermentasi biji kedelai oleh kapang, khamir atau bakteri.
b.      Kecap
Kecap merupakan hasil fermentasi biji kedelai oleh bakteri asam laktat.
c.       Terasi
Terasi merupakan produk fermentasi udang atau ikan oleh mikroorganisme.
d.      Cuka
Cuka merupakan bahan hasil oksidasi etanol oleh bakteri Acetobacter.


2.4 Manfaat Bioteknologi Pangan
proses bioteknologi, khususnya pemanfaatan mikroba dalam bidang pangan telah cukup luas dikenal masyarakat. Kita dapat dengan mudah menemukan makanan dan minuman hasil bioteknologi pangan. Adapun manfaat bioteknologi dalam bidang pangan adalah sebagai berikut :
1.      Mendapatkan bahan pangan dengan kualitas unggul.
2.      Menghasilkan produk makanan bergizi inggi.
3.      Terciptanya berbagai variasi produk makanan baru.
4.      Menghasilkan produksi makanan dengan kuantitas tinggi.
5.      Berperan dalam pemenuhan kebutuhan pangan manusia yang terus meningkat.

2.5 Dampak Negatif Ditimbulkan dari Bioteknologi Pangan
Selain membaa manfaat ternyata penerapan bioteknologi dalam bidang pangan dapat mendatangkan akibat buruk terhadap lingkungan dan manusia. Dampak negatif yang dapat ditimbulkan dari penerapan bioteknologi pangan antara lain :
1.      Pencemaran lingkungan
Misalnya dalam pembutan tempe dalam skala besar dapat menghasilkan limbah berupa timbunan ampas dan kulit kedelai yang dapat menimbulkan bau busuk dan mencemari lingkungan.
2.      Produksi besar-besaran minuman beralkohol
Minuman beralkohol dapat meracuni dan merusak sel-sel di otak dan hati sehingga sangan berbahaya bagi kesehatan manusia.
3.      Persaingan dalam perdagangan dan pemasaran produk bioteknologi
Persaingan ini dapat menimbulkan ketidakadilan bagi negara berkembang yang belum memiliki teknologi maju yang mendukung produksi bioteknologi pangan.
4.      Meningkatnya kecenderungan allergen, sifat toksik atau menurunnya nilai gizi pada pangan transgenik.
Produk pangan transgenik dikhawatirkan membahayakan bagi kesehatan manusia. Salah satu tanaman transgenik dapat menimbulkan alergi pada uji laboratorium, yaitu kedelai transgenik yang mengandung methionine-rich protein dari brazil.


2.6 Solusi untuk Mengurangi Dampak Negatif dari Proses Bioteknologi Pangan

Beberapa usaha yang dapat dilakukan untuk mengurangi/mengatasi akibat buruk penggunaan bioteknologi antara lain :
1.      Penanganan limbah tempe secara sederhana dapat dilakukan dengan memproses limbah buangan yang ditampung pada bak pengumpul limbah menggunakan mikroorganisme tertentu secara alami sehingga limbah dapat terurai tanpa membahayakan lingkungan.
2.      Untuk minuman beralkohol dapat dikenai cukai atau pajak yang tinggi sehingga harganya menjadi mahal. Akibatnya tidak semua orang dapat mengkonsumsi berlebihan secara rutin.
3.      Menetapkan undang-undang yang mengatur perdagangan internasional untuk produksi bioteknologi pangan, sehingga tidak terjadi kesenjangan antara negara maju dan berkembang.
4.      Harus dilakukan pengujian berulang untuk produk pangan transgenik sebelum diedarkan ke masyarakat. Selain itu, jika sudah beredar makan harus ada informasi mengenai resiko mengenai alergi yang terdapat pada produk pangan transgenik tersebut.

BAB 3
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Dari apa yang tealh dijelaskan dan dipapar kan di atas, naka dapat didimpulan bahwa :
1.      Bioteknolgi sangan bermanfaat dalam pengolhan bahan pangan, karena dapat meningkatkan kuantitas dan kualitas makanan, dan mencipytakan makan yang bergizi.
2.      Dalam bioteknologi pengolahan bahan pangan, diperlukan mikroorganisme dalam proses pembuatannya.
3.      Bioteknologi pangan sangat membantu dalam memenuhi kebutuhan manusia dalam kebutuhan pangan yang sehat dan bergizi tinggi.
3.2 Saran
Diperlukan adanya kesadaran bagi seluruh manusia tentang bagaimana cara menciptakan bumi yang lebih baik dan lebih lestari kedepannya tanpa meninggalkan aspek IPTEK. Untuk itu, dalam proses peningkatan ketahanan pangan dengan bioteknologi pangan, harus juga diperhatikan aspek kelestarian SDA dan SDM tersebut. Jangan sampai bioteknologi pangan justru membuat degradasi kualitas kesehatan umat manusia.

DAFTAR PUSTAKA
Daroji dan Haryati. 2009. Jelajah Fakta Biologi 3 untuk kelas IX SMP dan MTs. Solo: PT. Tiga Serangkai Pustaka Mandiri.
Pratiwi, D.A. dkk. 2007. Biologi untuk SMA Kelas XII. Jakarta: Erlangga.

Situs web :

No comments:

Post a Comment