BAB
1
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Selama kehidupan di bumi masih
berlangsung, maka selama itu pula manusia akan tetap ‘dipaksa’ memenuhi segala
kebutuhan yang semakin lama kian meningkat baik kualitas maupun kuantitasnya.
Meningkatnya kualitas hidup serta nilai-nilai budaya manusia itu sendiri akan
menuntut peningkatan dari kualitas kebutuhannya, sedangkan pertambahan jumlah
populasi manusia akan meningkatkan kuantitas kebutuhan tersebut.
Produksi pangan tumbuh berdasarkan deret
ukur, sedangkan populasi manusia tumbuh berdasarkan deret hitung. Ini berarti
keberadaan bahan pangan akan tumbuh lebih lambat dibandingkan keberadaan
populasi manusia. Hal ini merupakan kenyataan yang harus mendapat perhatian
lebih bagi seluruh masyarakat di bumi. Manusia harus mencari bagaimana cara
mengatasi masalah tersebut.
Seiring dengan perkembangan kemampuan
manusia dalam ilmu pengetahuan dan teknologi, penerapan teknologi dalam bidang
pangan juga semakin maju. Sejak ribuan tahun yang lalu, manusia telah dapat
membuat produk makanan baru dengan memanfaatkan mikroorganisme. Bioteknologi
yang digunakan dalam masa ini masih sangat sederhana (tradisional) dan dalam
skala kecil.
Dari waktu ke waktu, pembuatan makanan
baru dengan bantuan mikroorganisme ini terus dikembangkan menjadi lebih modern,
dalam skala yang lebih besar, dan kualitas yang lebih baik. Dengan begitu,
duharapkan agar produksi pangan dapat mengimbangi populasi manusia yang terus
bertambah.
1.2 Rumusan Masalah
Dari latar belakang di
atas dirumuskan masalah sebagai berikut :
1.
Apa yang dimaksud dengan bioteknologi
pangan ?
2.
Apa saja kegiatan-kegiatan yang
dilakukan dalam bioteknologi pangan ?
3.
Apa saja contoh-contoh hasil dari
bioteknologi pangan ?
4.
Apa saja manfaat bioteknologi dalam
bidang pangan ?
5.
Apa dampak negatif yang ditimbulkan dari
proses bioteknologi panagn ini ?
6.
Bagaiman solusi untuk mengurangi dampak
negatif dari proses bioteknologi pangan ?
1.3
Tujuan
Tujuan
dari penulisan makalah ini antara lain :
1.
Mengerti pengertian bioteknologi pangan.
2.
Mengetahui kegiatan-kegiatan yang
dilakukan dalam bioteknologi pangan.
3.
Mengetahui contoh-contoh hasil dari
bioteknologi pangan.
4.
Memahami manfaat bioteknologi pangan.
5.
Memahami dampak negatif yang ditimbulkan
dari bioteknologi pangan.
6. Memahami
cara untuk mengurangi dampak negatif dari bioteknologi pangan.
1.4 Manfaat
1. Menambah
pengetahuan pembaca tentang bioteknologi pangan.
2. Memberi
pemahaman konsep dan dampak bioteknologi pangan kepada pembaca sebagai
konsumen.
3. Sebagai
bahan referensi bagi pembaca.
BAB
2
PEMBAHASAN
2.1
Pengertian Bioteknologi Pangan
Istilah
bioteknologi pertama kali dikemukakan oleh Karl Erekty, seorang insinyur
Hongaria, pada tahun 1917 untuk mendeskripsikan produksi babi dalam skala besar
dengan menggunakan bit gula sebagai sumber makanan. Pada perkembangannya sampai
pada tahun 1970 bioteknologi selalu berasosiasi dengan rekayasa biokimia
{biochemical engineering).
Bioteknologi
berasal dari kata “Bio” dan “Teknologi”. Bio berasal dari bahasa yunani “Bios”
yang berarti hidup. Sedangkan teknologi berasal dari bahasa perancis “La
Teknique” yang dapat diartikan sebagai semua proses yang dilaksanakan dalam
upaya untuk mewujudkan sesuatu secara rasional.
Secara
garis besar bioteknologi dapat didefinisikan sebagai penggunaan organisme atau
sistem hidup untuk memecahkan suatu masalah atau untuk menghasilkan produk yang
berguna. Sehingga bioteknologi pangan dapat diartikan sebagai solusi
bioteknologi dibidang pangan sejak persiapan bahan sampai dengan pengolahannya
menjadi produk siap olah atau siap hidang.
2.2 Kegiatan-kegiatan dalam
Bioteknologi Pangan
Secara
garis besar kegiatan bioteknologi pangan dapat dijelaskan sebagai berikut :
1)
Teknologi
Sel Mikroba, untuk produksi pangan terfermentasi dan aditif pangan
Teknologi sel mikroba
sudah diaplikasikan di bidang pangan sejak beberapa abad yang lalu. Tujuan dari
bioteknologi sel mikroba ini adalah pengawetan pangan yang menghasilkan
berbagai jenis makanan fermentasi. Sedangkan teknologi mikrobial yang bertujuan
menghasilkan bahan kimia sekaligus bahan pangan adalah produksi etanol oleh
khamir dari proses lanjutannya untuk
menghasilkan cuka (asam asetat) oleh bakteri.
2)
Aplikasi
Enzim untuk persiapan bahan maupun pengolahan pangan
Teknologi aplikasi
enzim untuk persiapan maupun pengolahan pangan sangat luas. Aplikasi yang
tergolong kelompok pertama misalnya pembuatan sirup glukosa dari pati-patian
yang melibatkan enzim-enzim α dan β amylase, amiloglukosidase dan pallulanase,
konfersi glukosa ke fruktosa oleh glukosaisomerase, penggunaan pektinase untuk
membantu ekstraksi pati dari bahan asalnya, modifikasi pati untuk mengubah
sifat fungsionalnya dan sebagainya.
Pada kelompok kedua
selain contoh kelasik pembuatan keju adalah misalnya penggunaan lipase untuk
menghasilkan emulsifier, surfaktant, mentega, coklat tiruan, protease untuk
membantu pengempukan daging, mencegah kekeruhan bir, naringinase untuk
menghilangkan rasa pahit pada jus jeruk, glukosa oksidase untuk mencegah reaksi
pencoklatan pada produk tepung telur dan lain-lain.
3)
Kultur
Sel atau Jaringan tanaman dan Tanaman Transgenik
Sel tanaman mempunyai
kemampuan yang disebut “totipotency”, yaitu kemampuan tumbuh dan berkembang
biak untuk menjadi tanaman lengkap pada medium yang memenuhi syarat. Dapat pula
sel tersebut tumbuh tanpa mengalami diferensiasi. Hal ini tergantung pada kadar
hormon pertumbuhan yang diberikan. Dengan kenyataan ini maka kemungkinan
pemberdayaan sel atau jaringan tanaman untuk maksud-maksud berikut :
a. Produksi
zat kimia atau aditif pangan.
b. Menumbuhkan
tanaman (dengan produk bahan pangan) berkualitas tinggi.
c. Menumbuhkan
tanaman dengan produktifitas bahan pangan tinggi.
Sifat variasi
somaklonal dari sejumlah populasi sel tanaman yang tumbuh dapat dugunakan untuk
menseleksi sel tanaman yang unggul untuk memproduksi metabolit tertentu.
Produk-produk aditif yang dapat diharapkan dari sel tanaman antara lain :
a. Zat
warna pangan (antosianin, betasini. Saffron)
b. Zat
rasa/flavor (strawberry, anggur. Dll)
c. Minyak
atsiri (mint, ros, dll)
d. Pemanis
(steviosida, monelin)
4)
Kultur
Sel Hewan dan Hewan Transgenik
Kultur sel hewan adalah
sistem menumbuhkan sel manusia maupun hewan untuk tujuan memproduksi metabolit
tertentu. Pada saat sekarang aplikasi dari system ini banyak digunakan untuk
menghasilkan produk-produk farmasi dan kit diagnostik dengan kebanyak jenis
produk berupa molekul protein kompleks. Adapun contoh-contoh produk yang biasa
dihasilkan oleh sel hewan misalnya : interferon, tissue plasminogen activator,
erythroprotein, hepatitis B surface antigen.
Hewan transgenik aalah
hewan yang menerima gen pindahan dari organisme lain (atau hewan yang sama)
untuk tujuan-tujuan yang tentunya dianggap menguntungkan bagi manusia. Sda
jenis hewan transgenik yang dianggap sebagai system produksi yang lebih baik
bagi beberapa protein yang biasanya diproduksi oleh sistem sel hewan, salah
satu contohnya adalah produksi t-PA oleh tikus yang depresi pada susu. Dunia
perikanan pun tak ketinggalan dengan mengklon gen beku pada ikan salmon agar
tahan dingin sehingga menunda masa bertelur dan sebagai gantinya meningkatkan
bobot badannya.
5)
Rekayasa
Protein
Aplikasi rekayas
protein dalam bidang pangan melibatkan 2 hal :
a. Enzim
melalui modifikasi molekul protein. Dalam hal ini tujuan sasarannya adalah
stabilitas enzim pada kondisi-kondisi khusus.
b. Modifikasi
protein pangan untuk mengubah sifat fungsionalnya. Sasaran tujuan misalnya
memperbaiki sifat elastisitas, kemampuan membentuk emulsi atau kemampuan
menstabilkan tekstur.
2.3 Hasil dari Bioteknologi Pangan
Secara
garis besar, produk bioteknologi dalam bidang pangan dapat dikelompokkan
menjadi empat jenis, yaitu :
1) Produk
makanan bergizi tinggi
a. Tempe
Selama proses
fermentasi, jamur Rhizopus menghasilkan
enzim protease yang mampu mendegradasi protein menjadi asam amino serta
menghasilkan enzim lipase yang menguraikan lemak menjadi asam lemak.
b. Roti
Enzim amilase yang
diaktifkan oleh air memecah amilum dalam tepung terigu pada roti menjadi gula.
c. Oncom
Neurospora pada oncom
dapat mengeluarkan enzim amilase, lipase dan protease yang aktif selama proses
fermentasi.
d. Nata
de coco
Biosintesis nata de
coco menggunakan sumber gula yang berasal dari medium air kelapa. Yaitu glukosa
dan fruktosa.
2) Produk
makanan dan minuman hasil fermentasi alkohol
a. Tape
Pada saat fermentasi
tape, terjadi sakarifikasi pati oleh enzim amilase yang dihasilkan oleh jamur,
kemudian dilanjutkan dengan fermentasi alkohol oleh khamir.
b. Bir
Yeast yang digunakan
adalah Saccharomyces cerevicae dan S. Carlsbergensis. Fermentasi bir
umumnya memakan waktu 5-14 hari.
c. Minuman
anggur (Wine)
Minuman anggur umunya
mengandung alkohol dengan kadar 10-15%
3) Produk
makanan dan minuman hasil fermentasi asam
a. Yoghurt
Mikroorganisme yang
digunakan adalah bakteri Lactobacillus
bulgaricus dan Streptococcus
thermophillus.
b. Keju
Bakteri yang digunakan
adalah yang berasal dari genus Lactobacillus
dan Streptococcus.
c. Sauerkrat
dan pikel (acar)
Bakteri asam laktat
yang digunakan adalah Lactobacillus
casei, Lactobacillus brevis, Lactobacillus cremoris.
4) Produk
bahan penyedap
a. Tauco
Tauco merupakan produk
fermentasi biji kedelai oleh kapang, khamir atau bakteri.
b. Kecap
Kecap merupakan hasil
fermentasi biji kedelai oleh bakteri asam laktat.
c. Terasi
Terasi merupakan produk
fermentasi udang atau ikan oleh mikroorganisme.
d. Cuka
Cuka merupakan bahan
hasil oksidasi etanol oleh bakteri Acetobacter.
2.4
Manfaat Bioteknologi Pangan
proses
bioteknologi, khususnya pemanfaatan mikroba dalam bidang pangan telah cukup
luas dikenal masyarakat. Kita dapat dengan mudah menemukan makanan dan minuman
hasil bioteknologi pangan. Adapun manfaat bioteknologi dalam bidang pangan
adalah sebagai berikut :
1. Mendapatkan
bahan pangan dengan kualitas unggul.
2. Menghasilkan
produk makanan bergizi inggi.
3. Terciptanya
berbagai variasi produk makanan baru.
4. Menghasilkan
produksi makanan dengan kuantitas tinggi.
5. Berperan
dalam pemenuhan kebutuhan pangan manusia yang terus meningkat.
2.5
Dampak Negatif Ditimbulkan dari Bioteknologi Pangan
Selain membaa
manfaat ternyata penerapan bioteknologi dalam bidang pangan dapat mendatangkan
akibat buruk terhadap lingkungan dan manusia. Dampak negatif yang dapat
ditimbulkan dari penerapan bioteknologi pangan antara lain :
1. Pencemaran
lingkungan
Misalnya dalam pembutan
tempe dalam skala besar dapat menghasilkan limbah berupa timbunan ampas dan
kulit kedelai yang dapat menimbulkan bau busuk dan mencemari lingkungan.
2. Produksi
besar-besaran minuman beralkohol
Minuman beralkohol
dapat meracuni dan merusak sel-sel di otak dan hati sehingga sangan berbahaya
bagi kesehatan manusia.
3. Persaingan
dalam perdagangan dan pemasaran produk bioteknologi
Persaingan ini dapat
menimbulkan ketidakadilan bagi negara berkembang yang belum memiliki teknologi
maju yang mendukung produksi bioteknologi pangan.
4. Meningkatnya
kecenderungan allergen, sifat toksik atau menurunnya nilai gizi pada pangan
transgenik.
Produk pangan transgenik
dikhawatirkan membahayakan bagi kesehatan manusia. Salah satu tanaman
transgenik dapat menimbulkan alergi pada uji laboratorium, yaitu kedelai
transgenik yang mengandung methionine-rich protein dari brazil.
2.6
Solusi untuk Mengurangi Dampak Negatif dari Proses Bioteknologi Pangan
Beberapa usaha
yang dapat dilakukan untuk mengurangi/mengatasi akibat buruk penggunaan
bioteknologi antara lain :
1. Penanganan
limbah tempe secara sederhana dapat dilakukan dengan memproses limbah buangan
yang ditampung pada bak pengumpul limbah menggunakan mikroorganisme tertentu
secara alami sehingga limbah dapat terurai tanpa membahayakan lingkungan.
2. Untuk
minuman beralkohol dapat dikenai cukai atau pajak yang tinggi sehingga harganya
menjadi mahal. Akibatnya tidak semua orang dapat mengkonsumsi berlebihan secara
rutin.
3. Menetapkan
undang-undang yang mengatur perdagangan internasional untuk produksi
bioteknologi pangan, sehingga tidak terjadi kesenjangan antara negara maju dan
berkembang.
4. Harus
dilakukan pengujian berulang untuk produk pangan transgenik sebelum diedarkan
ke masyarakat. Selain itu, jika sudah beredar makan harus ada informasi
mengenai resiko mengenai alergi yang terdapat pada produk pangan transgenik
tersebut.
BAB 3
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Dari
apa yang tealh dijelaskan dan dipapar kan di atas, naka dapat didimpulan bahwa
:
1. Bioteknolgi
sangan bermanfaat dalam pengolhan bahan pangan, karena dapat meningkatkan
kuantitas dan kualitas makanan, dan mencipytakan makan yang bergizi.
2. Dalam
bioteknologi pengolahan bahan pangan, diperlukan mikroorganisme dalam proses
pembuatannya.
3. Bioteknologi
pangan sangat membantu dalam memenuhi kebutuhan manusia dalam kebutuhan pangan
yang sehat dan bergizi tinggi.
3.2 Saran
Diperlukan
adanya kesadaran bagi seluruh manusia tentang bagaimana cara menciptakan bumi
yang lebih baik dan lebih lestari kedepannya tanpa meninggalkan aspek IPTEK.
Untuk itu, dalam proses peningkatan ketahanan pangan dengan bioteknologi
pangan, harus juga diperhatikan aspek kelestarian SDA dan SDM tersebut. Jangan
sampai bioteknologi pangan justru membuat degradasi kualitas kesehatan umat
manusia.
DAFTAR
PUSTAKA
Daroji
dan Haryati. 2009. Jelajah Fakta Biologi 3 untuk kelas IX SMP dan MTs. Solo:
PT. Tiga Serangkai Pustaka Mandiri.
Pratiwi,
D.A. dkk. 2007. Biologi untuk SMA Kelas XII. Jakarta: Erlangga.
Situs
web :
No comments:
Post a Comment